Strategi Investasi 2026 Ala DBS Hadapi Risiko Fiskal AS

Rabu, 14 Januari 2026 | 10:46:02 WIB
Strategi Investasi 2026 Ala DBS Hadapi Risiko Fiskal AS

JAKARTA - Memasuki awal 2026, lanskap investasi global menghadapi dinamika yang jauh lebih kompleks dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

Investor tidak hanya dihadapkan pada fluktuasi pasar, tetapi juga pada perubahan arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang dinilai membawa risiko baru. 

Dominasi fiskal yang ditandai oleh tingginya utang dan defisit anggaran pemerintah AS mulai menimbulkan kekhawatiran serius, terutama terhadap independensi bank sentral AS, Federal Reserve.

Laporan terbaru The Development Bank of Singapore Limited atau DBS Bank menggarisbawahi bahwa tekanan fiskal berpotensi memengaruhi kebijakan moneter The Fed. 

Kondisi ini menjadi sorotan karena pasar sangat sensitif terhadap sinyal campur tangan politik dalam pengendalian inflasi. Chief Investment Officer DBS, Hou Wey Fook, menilai bahwa ketika kepercayaan pasar terhadap independensi bank sentral melemah, ekspektasi inflasi bisa kembali meningkat secara signifikan.

“Bagi investor, ini bukan lagi sekadar risiko teoretis, melainkan tantangan praktis yang harus segera diantisipasi,” kata Hou.

Tekanan Fiskal AS Dan Ancaman Inflasi Global

Kebijakan fiskal AS yang ekspansif menciptakan bayang-bayang risiko jangka panjang bagi stabilitas ekonomi global. Tumpukan utang pemerintah dan defisit anggaran yang terus berlanjut berpotensi membatasi ruang gerak The Fed dalam menekan inflasi. 

Situasi ini membuat pasar khawatir bahwa kebijakan moneter tidak lagi sepenuhnya independen.

Dalam kondisi seperti ini, instrumen tradisional seperti kas dinilai semakin kehilangan daya tarik karena tergerus inflasi. Hou menekankan pentingnya langkah antisipatif bagi investor untuk menjaga nilai portofolio mereka. Ketika inflasi bersifat persisten, strategi investasi yang terlalu defensif justru bisa menggerus imbal hasil secara perlahan.

Ancaman inflasi juga berdampak pada pasar global secara luas. Negara-negara berkembang hingga maju akan merasakan efek rambatan, terutama melalui pergerakan nilai tukar dan aliran modal internasional. 

Oleh karena itu, investor dituntut untuk lebih selektif dan adaptif dalam menentukan alokasi aset sepanjang 2026.

Lindungi Nilai Dengan Aset Riil Dan Komoditas

Di tengah ketidakpastian tersebut, DBS merekomendasikan peningkatan eksposur ke aset riil atau real assets. Infrastruktur, real estat, komoditas, hingga logam mulia dinilai memiliki kemampuan lindung nilai yang lebih baik dalam siklus inflasi tinggi. 

Secara historis, aset-aset ini kerap mencatat kinerja di atas rata-rata ketika tekanan inflasi meningkat.

Logam mulia, khususnya emas dan perak, dipandang sebagai instrumen yang relevan untuk diversifikasi portofolio. Perak bahkan dinilai menarik sebagai alternatif tambahan di tengah kejenuhan saham-saham S&P 500 yang sudah mencapai valuasi tinggi. Kombinasi aset riil dinilai mampu membantu investor menjaga stabilitas nilai kekayaan dalam jangka menengah hingga panjang.

Selain itu, emas tetap menjadi pilihan utama sebagai lindung nilai terhadap risiko keberlanjutan utang AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Ketika volatilitas pasar meningkat, aset safe haven seperti emas cenderung kembali diburu oleh investor.

Menunggangi Peluang AI Dan Pasar Asia

Investasi di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diproyeksikan masih akan menjadi primadona pada 2026. Namun, Hou menekankan adanya pergeseran pendekatan. 

Jika sebelumnya pasar berfokus pada penyedia teknologi utama, kini investor disarankan melirik perusahaan pengadopsi AI atau AI adapters.

Perusahaan-perusahaan ini dinilai lebih mampu memanfaatkan teknologi AI untuk meningkatkan efisiensi dan profitabilitas bisnis. Strategi ini dianggap lebih aman untuk menghindari jebakan valuasi mahal pada perusahaan teknologi besar atau Big Tech. Sebagai gambaran, belanja infrastruktur AI diproyeksikan mencapai 1,4 triliun dollar AS hingga 2027.

Di sisi lain, DBS juga melihat peluang besar di pasar saham Asia di luar Jepang atau Asia ex-Japan. Valuasi pasar Asia saat ini diperdagangkan dengan diskon hingga 32,4 persen dibandingkan pasar negara maju. 

Selain itu, indeks dolar AS (DXY) diprediksi melandai ke level 94,8 pada akhir 2026, yang biasanya menjadi katalis positif bagi aliran modal masuk ke kawasan Asia. Potensi pertumbuhan laba perusahaan Asia ex-Japan juga diperkirakan mencapai 18,9 persen pada 2026.

Fokus Pada Kualitas Dan Strategi Jangka Panjang

Dalam menghadapi ketidakpastian pasar, DBS mengingatkan investor untuk tidak tergoda instrumen spekulatif berimbal hasil tinggi namun berisiko besar. 

Resiliensi portofolio pada 2026 sangat bergantung pada kualitas aset. Pilihan utama diarahkan pada ekuitas dengan fundamental kuat serta obligasi peringkat investasi dengan tenor lima hingga tujuh tahun.

Obligasi jenis ini dinilai lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi dibandingkan obligasi berimbal hasil tinggi yang mulai kehilangan daya tarik. 

Selain itu, saham sektor pertahanan di Eropa juga dinilai layak dipertimbangkan seiring komitmen negara-negara NATO untuk meningkatkan anggaran pertahanan hingga lima persen dari Produk Domestik Bruto pada 2035.

Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menekankan pentingnya strategi jangka panjang dan disiplin investasi. Menurutnya, investor perlu menetapkan tujuan keuangan dan memahami profil risiko agar tidak panik saat pasar bergejolak. 

Diversifikasi portofolio dan rebalancing berkala menjadi kunci menjaga komposisi aset tetap ideal.

Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Chory Agung Ramdhani menilai metode dollar-cost averaging atau DCA sebagai strategi efektif menghadapi volatilitas. 

Ia juga merekomendasikan fokus pada sektor hilirisasi komoditas, energi baru terbarukan, serta perbankan besar sebagai penopang stabilitas pasar.

Dengan alokasi aset yang sesuai profil risiko, investor diharapkan mampu menghadapi gejolak pasar global dengan lebih tenang dan tetap siap menangkap peluang di tengah ketidakpastian.

Terkini

6 Buah Efektif Meredakan Kram Saat Haid Alami

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:30:22 WIB

8 Buah Rendah Gula Yang Cocok Untuk Diet Sehat

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:30:20 WIB

Samsung Galaxy S26 Resmi Hadir dengan Kamera Baru 24MP

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:30:19 WIB

Kerja Singkat Pakai Canva Bisa Hasilkan Uang Banyak

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:30:17 WIB

Apple Siri Kini Gunakan Google Gemini, Elon Musk Soroti

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:30:16 WIB