SUMEDANG - Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mengalihkan fokus pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) ke penguatan materi manajerial guna mematangkan pelaksanaan program.
Saat meninjau lokasi di Sumedang, Jawa Barat, pada hari Selasa, Dudung menjelaskan bahwa pembenahan ini merupakan hasil evaluasi agar pelatihan lebih relevan dengan kebutuhan peserta.
"Evaluasi sudah berlangsung. Kegiatan-kegiatan fisik sudah ditiadakan, dikurangi semaksimal mungkin dan dititikberatkan pada bagaimana manajemen perkoperasian karena ini calon-calon manajer nantinya," katanya.
Dudung menambahkan bahwa pemerintah juga memangkas durasi pelatihan serta menyesuaikan kembali substansi materi pembekalan.
Ia menegaskan, peninjauan ulang ini dilakukan agar para peserta SPPI mampu menjadi pengelola koperasi yang kompeten dalam menjalankan organisasi dan bisnis secara profesional.
"Pembekalannya mungkin pembekalan secara teori dan praktik tentang manajemen dan waktunya saya mendapat informasi dipersingkat," ujarnya.
Dudung mengklarifikasi bahwa materi dasar kemiliteran yang diberikan kepada peserta hanya sebatas pengenalan bela negara dalam konteks pertahanan rakyat semesta, bukan pelatihan pertempuran seperti anggota TNI.
Menurutnya, hal tersebut bertujuan untuk memberikan wawasan tentang sistem pertahanan negara dan kesiapan warga, tanpa mengajarkan taktik maupun operasi pertempuran yang menjadi porsi militer.
Ia memastikan akan terus mengevaluasi pelaksanaan pelatihan SPPI agar kurikulum yang diberikan semakin selaras dengan target pembentukan SDM yang piawai dalam manajerial untuk pengelolaan profesional.