Atasi Penyelundupan, Malaysia Turunkan Harga Solar Mulai Juli 2026

Atasi Penyelundupan, Malaysia Turunkan Harga Solar Mulai Juli 2026
Ilustrasi bendera Malaysia (FOTO: NET)

KUALA LUMPUR - Pemerintah Malaysia mengambil langkah untuk memotong harga jual solar menjadi 2,10 ringgit Malaysia setiap liternya yang mulai berlaku pada Juli 2026.

Langkah ini diterapkan di seluruh wilayah negeri jiran guna meminimalisasi tindakan penyelundupan serta kebocoran dana subsidi yang selama ini terjadi karena adanya ketimpangan harga solar antarwilayah.

Pihak Kementerian Keuangan Malaysia mengungkapkan bahwa disparitas antara harga solar yang disubsidi dengan yang nonsubsidi telah memicu stimulus bagi tindakan penyalahgunaan dana subsidi, termasuk aktivitas penyelundupan melewati batas negara.

Sekarang ini, varian solar bersubsidi dipasarkan dengan harga 2,15 ringgit per liter untuk wilayah Sabah dan Sarawak.

Di sisi lain, nilai jual solar di kawasan Semenanjung Malaysia berada di angka 4,37 ringgit per liter.

Melalui estimasi kurs 1 dollar AS yang setara dengan 4,137 ringgit, ketetapan harga solar yang baru sebesar 2,10 ringgit per liter tersebut nilainya berkisar 0,51 dollar AS atau kurang lebih Rp 9.100 per liter.

Nilai jual solar setinggi 4,37 ringgit per liter setara dengan kisaran 1,06 dollar AS atau mendekati Rp 18.900 per liter.

"Kesenjangan harga tersebut telah menciptakan ruang untuk kebocoran pendapatan dan penyelundupan solar bersubsidi, termasuk lintas batas," kata Kementerian Keuangan Malaysia dalam pernyataan resmi, Minggu (21/6/2026).

Walaupun sudah mempublikasikan rencana pemotongan harga ini, pihak otoritas belum memaparkan asal usul dana tambahan yang dipakai untuk menyokong subsidi tersebut.

Langkah kebijakan ini hadir di masa ketika banyak negara tengah mengalami tekanan akibat besarnya biaya energi yang dipicu oleh hambatan suplai global efek dari konflik di Timur Tengah.

Kementerian Keuangan Malaysia mengonfirmasi bahwa penjelasan yang lebih detail terkait aturan baru ini bakal dipaparkan oleh Menteri Keuangan II Amir Hamzah Azizan pada hari Senin.

Di tengah situasi pasar energi yang penuh volatilitas, Malaysia turut mengambil tindakan untuk memperkokoh pasokan minyak serta gas dari luar negeri.

Badan usaha energi milik negara Petronas pada hari Sabtu telah menyepakati sejumlah kerja sama komersial bersama korporasi energi negara Turkmenistan, yaitu Turkmennebit dan Hazarnebit.

Kolaborasi ini diorientasikan guna melebarkan sayap portofolio usaha hulu migas sekaligus mempertegas eksistensi Petronas di wilayah Laut Kaspia.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan bahwa kemitraan ini membuka jalan menuju salah satu tempat penyimpanan gas terbesar di dunia.

Berdasarkan laporan lembaga pemberitaan Bernama, Anwar berpandangan bahwa ketersediaan pasokan tersebut berpeluang menyokong aktivitas ekspor energi Malaysia ke beberapa pasar utama meliputi China, Jepang, serta Korea Selatan.

Selain dengan pihak Turkmenistan, Malaysia juga tengah menjajaki kemitraan sektor energi untuk jangka panjang bersama Rusia.

"Rusia juga telah menjamin Malaysia akan perjanjian jangka panjang untuk pasokan minyak, gas, dan diesel setidaknya selama 20 tahun," kata Anwar.

Ia belum menyampaikan informasi terkait volume ataupun nominal kontrak yang kini tengah digodok oleh kedua pihak negara.

Kebijakan Malaysia dalam memangkas harga solar sekaligus berburu pasokan energi baru memperlihatkan semakin tingginya atensi pihak pemerintah terhadap ketahanan energi domestik di tengah ketidakpastian pasar global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index