Sumur Bor Milik Warga Jadi Penyelamat Ratusan Orang Saat Kemarau Panjang

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:54:50 WIB
Ilustrasi Sumur bor milik Wasiti (FOTO: NET)

PANGANDARAN - Setiap musim kemarau, halaman kediaman Wasiti di Dusun Cilutung, Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, mendadak dipenuhi antrean warga yang mencari air bersih.

Toren air berwarna merah yang terletak di atas dudukan beton terus mengalirkan air untuk mencukupi kebutuhan ratusan penduduk Dusun Majingklak yang kesulitan mendapatkan air bersih akibat jaringan pipa di sana berubah menjadi asin.

Sejak waktu subuh, warga sudah berdatangan dengan membawa jeriken maupun galon kosong, baik dengan berjalan kaki maupun mengendarai sepeda motor, lalu bergantian mengisi wadah mereka sebelum kembali beraktivitas.

Sumur bor yang dibangun keluarga Wasiti sekitar sepuluh tahun lalu kini tidak lagi hanya digunakan untuk keperluan pribadi, melainkan menjadi sumber air bersih utama bagi warga sekitar saat musim kering melanda.

"Kalau musim kemarau gini, saya enggak kasih tarif. Seikhlasnya saja, kasihan warga kesulitan air. Mereka ada yang biasa kasih Rp 5.000 atau Rp 2.000 juga ada buat nyuci atau ambil air tiga kali balik," kata Wasiti.

Setiap hari, puluhan warga silih berganti datang, mulai dari sekadar mengisi galon hingga menumpang mandi serta mencuci karena air di rumah mereka sudah tidak lagi layak pakai.

"Warga dalam sehari kadang ada yang tiga kali bolak-balik ambil air, karena kan ambilnya pakai galon. Ada yang numpang mandi, numpang cuci. Banyak dalam kondisi seperti ini. Kadang datang waktu subuh," ujarnya.

Pemandangan antrean ini selalu terjadi setiap musim kemarau, di mana galon dan jeriken berjejer rapi, bahkan ada warga yang harus kembali lagi pada sore hari karena persediaan air di rumah mereka cepat habis.

Sumur tersebut dibangun pada 2016 saat wilayah Majingklak dilanda kekeringan, di mana suami Wasiti awalnya berinisiatif menjual air menggunakan sepeda motor dengan membawa tiga jeriken berkapasitas 30 liter.

"Memang saat itu juga sudah sering kekeringan. Makanya dulu suami saya keliling pakai motor jual air," tuturnya.

Kala itu, air yang dibawa dijual seharga Rp 5.000 untuk tiga jeriken, namun seiring meningkatnya kebutuhan warga, keluarga Wasiti beralih menggunakan mobil tangki berisi toren.

"Dulu sempat jualan air, semotornya Rp 5.000 tiga jeriken ukuran 30 liter. Karena makin banyak yang beli air, pindah pakai mobil jualan air, pakai toren, satunya Rp 50.000," katanya.

Wasiti mengungkapkan bahwa mencari sumber air bersih bukanlah hal mudah karena keluarganya beberapa kali harus berpindah titik pengeboran sedalam sembilan meter agar mendapatkan hasil yang memuaskan.

"Ngebornya ini dulu sembilan meter. Susah juga mencari sumber air yang bersih. Di titik pertama enggak asin, tapi kuning. Pindah ke belakang, airnya bau. Sampai nemu yang ini," ujarnya.

Setelah berhasil menemukan sumber air yang layak, keluarga Wasiti memasang toren sebagai penampung agar pasokan tetap terjaga ketika banyak warga datang bersamaan untuk mengambil air.

Meskipun dimanfaatkan oleh banyak warga setiap hari, Wasiti mengaku sumur bor tersebut belum pernah mengalami kekeringan dan debit airnya tetap stabil meski musim kemarau berlangsung.

"Ya kondisi air di sumur ini, ada gitu. Kalau melimpah kan enggak tahu di dalam, tapi ada. Enggak pernah kekurangan," katanya.

Kini, toren merah di halaman rumah Wasiti telah menjadi harapan bagi ratusan warga Dusun Majingklak setiap kali musim kemarau tiba dan air di lingkungan mereka berubah menjadi asin.

Terkini