DEPOK - Perdebatan mengenai dugaan pelarangan Misa Arwah di kediaman warga kawasan Bulak Timur, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, telah rampung dengan kesepakatan damai.
Ketua Pemberdayaan Perempuan Pemuda Batak Bersatu Kota Depok, Elsinar Simamora, yang bertindak mewakili pihak keluarga, memastikan seluruh kesalahpahaman yang mencuat pada Minggu (28/6/2026) malam sudah terselesaikan melalui proses mediasi.
"Selesailah semua, sudah damai semua, sudah aman, Puji Tuhan tidak ada keributan, tidak ada apa yang lain, misa juga sudah berjalan," ungkap Elsinar saat ditemui Kompas.com di Rumah Duka Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) Depok, Senin (29/6/2026) malam.
Penyelesaian ini dicapai setelah pihak keluarga, pengurus lingkungan, Pemerintah Kota Depok, DPRD Kota Depok, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) melakukan mediasi pada Senin pagi.
Sebagai langkah tindak lanjut, keluarga setuju untuk memindahkan rangkaian Misa Arwah ke Rumah Duka YLCC yang terletak di samping Gereja GBI Kamboja, Pancoran Mas, Depok.
Elsinar menuturkan, keputusan memindahkan tempat ibadah diambil demi menjamin keamanan dan kelancaran kegiatan, bukan karena paksaan.
Menurutnya, keluarga masih memiliki trauma mendalam akibat peristiwa yang terjadi sekitar 12 tahun lalu saat mendiang Laut Sihotang (71) menggelar ibadah syukuran di kediaman yang sama.
"Habis itu masuklah ke acara adat, diundang gereja semua untuk syukuran. Pas lagi keadaan misa khotbah itu waktu itu, datanglah massa, langsung dilempar. Hancur-hancurin, diinjak-injak makanan yang mau dipakai di situ," ucap Elsinar.
Rasa trauma tersebut kembali muncul menjelang Misa Arwah, terutama setelah adanya pihak yang menyatakan tidak dapat menjamin keamanan jika terjadi penolakan atau keributan dari warga sekitar.
Akhirnya, keluarga memilih membatalkan pelaksanaan misa di rumah meskipun romo serta para tamu sudah hadir di lokasi.
"Kami kan siapa yang mau jadi korban kayak dulu lagi? Udah, akhirnya enggak lanjutlah semalam," ujarnya.
Elsinar menambahkan, mendiang Laut Sihotang merupakan sosok yang sudah lama bermukim di Bulak Timur dan sempat menjadi perwakilan umat Katolik di FKUB Kota Depok.
Elsinar memaparkan, sebenarnya Ketua RT dan RW sudah memberikan izin, namun disertai pernyataan bahwa pengurus lingkungan tidak bisa bertanggung jawab apabila muncul gangguan keamanan.
"Dibilanglah sama RT-nya... 'Bagaimana Pak, aman Pak?' Terus dijawablah 'Silakan bu tapi kami tidak bertanggung jawab ya kalau ada apa-apa keributan atau apa, gitu'," ungkap Elsinar.
Pernyataan itu memicu perdebatan yang menyebabkan keributan di depan rumah hingga keluarga memutuskan membatalkan misa.
"Sudah diizinin, tapi tidak bertanggung jawab katanya. 'Tidak bertanggung jawab kalau ada massa nanti ke kalian.' Karena kami mau misa, mau misa arwah, jadi enggak jadilah, ribut-ribut, kami takut kan, batalkan saja," ucap Elsinar.
Di sisi lain, Sekretaris Kelurahan Cipayung, Mahjuro Sulaiman, membantah adanya pelarangan ibadah dan menyatakan insiden tersebut hanyalah miskomunikasi mengenai teknis acara serta kekhawatiran warga soal kapasitas.
Mahjuro menjelaskan, misa dijadwalkan berlangsung selama tiga malam mulai pukul 19.00 WIB dengan perkiraan ratusan pelayat yang hadir.
"Jam 7 malam. Dia misanya jam 7 sampai jam 11 malam, dan selama 3 hari rencananya, yang datang ratusan orang. Begitu jadi kan masyarakat dengernya 3 hari, 'kalau 3 hari mah mending kami bawa ke rumah duka aja kalau bisa," jelas Mahjuro saat ditemui Kompas.com secara terpisah.
Menurut Mahjuro, saran pemindahan lokasi bertujuan untuk menjaga keamanan dan mencegah potensi perselisihan dengan warga lain.
Ketua RT 05 RW 09, Darussalam, menegaskan pihaknya tidak pernah melarang misa dan sudah menjalin koordinasi dengan FKUB.
"Iya dianggapnya tidak mengizinkan, tidak boleh. Padahal saya sudah izinkan. Saya itu komunikasi dengan FKUB. Dan saya telepon lagi 'Tante, boleh'. 'Iya Pak RT terima kasih'. Tapi tadi pagi (terjadi kesalahpahaman)," jelas Darussalam.
Darussalam mengaku sedang berada di Serang, Banten, saat keributan pecah dan sempat berusaha menghubungi FKUB agar ibadah tetap berjalan aman, namun keluarga telanjur membatalkan acara.
"Kalau saya sama RW saya ada di sini, saya pasang dada di depan. Tapi saya kan lagi jauh, saya posisi lagi di Serang, enggak bisa hadir langsung, dan keluarga juga udah bilang 'Udah telat sudah telanjur ada penolakan warga'," kata dia.
Mahjuro menegaskan, anggapan bahwa Cipayung adalah wilayah yang intoleran adalah tidak benar.
"Jadi istilahnya kata-kata dalam artian kami nih Bulak Timur khususnya Kelurahan Cipayung intoleran udah diklarifikasi juga bahwa kami nih istilahnya udah tidak Pancasila, nggak, clear. Udah jadi rapi udah jadi nggak ada apa-apa lagi," tutup Mahjuro.