Dollar AS Cetak Rekor Tertinggi, Komoditas Logam Mulia Kompak Turun

Rabu, 24 Juni 2026 | 13:29:00 WIB
Ilustrasi Emas batangan (FOTO: NET)

NEW YORK - Nilai tukar komoditas emas global terpantau mengalami penurunan nilai pada penutupan sesi transaksi Selasa waktu setempat atau Rabu pagi WIB.

Kemerosotan ini berjalan beriringan dengan melonjaknya performa mata uang dollar Amerika Serikat (AS) menuju tangga tertinggi dalam kurun waktu satu tahun belakangan.

Kondisi tersebut dipicu oleh melambungnya proyeksi pasar atas potensi kebijakan kenaikan suku bunga acuan oleh otoritas moneter Federal Reserve (The Fed).

Menilik data dari Reuters, komoditas emas di pasar spot mencatatkan koreksi sebesar 1,4 persen menuju angka 4.131,24 dollar AS per ons.

Di samping itu, untuk instrumen kontrak emas berjangka AS komitmen pengiriman Agustus ikut terkoreksi sebesar 1,3 persen menuju area 4.149,40 dollar AS per ons.

Mata uang dollar AS yang meroket menuju posisi tertinggi dalam jangka waktu setahun lebih ini berimbas pada meningkatnya beban biaya pembelian emas bagi para kolektor yang bertransaksi memakai jenis mata uang eksternal, sehingga berpotensi menggerus angka serapan pasar.

Bob Haberkorn selaku Senior Market Strategist StoneX mengutarakan pandangan bahwa fokus utama para pelaku industri saat ini memang sedang condong pada garis haluan finansial milik The Fed ketimbang dinamika sosiopolitik yang melanda kawasan Timur Tengah.

"Saat ini emas dan perak sebenarnya tidak terlalu memperhatikan Timur Tengah. Saya pikir pasar lebih mencermati apa yang disampaikan The Fed pekan lalu," ujar Haberkorn.

Proyeksi atas lonjakan suku bunga acuan semakin menebal setelah pemimpin baru The Fed, Kevin Warsh, menyuarakan indikasi kebijakan yang condong bersifat agresif atau hawkish demi meredam gejolak inflasi.

Langkah tersebut memicu para pemodal untuk memperbesar porsi spekulasi mereka terhadap potensi peningkatan suku bunga pada periode beberapa bulan ke depan.

Mengacu pada data CME FedWatch Tool, para pelaku industri kini mengalkulasi adanya peluang hingga sebesar 86 persen bahwa suku bunga acuan bakal dikerek pada bulan Desember mendatang.

Angka probabilitas tersebut melonjak cukup signifikan bila berkaca dari posisi awal yang berada di level 61 persen sebelum agenda rapat haluan The Fed digulirkan pada minggu lalu.

Instrumen emas yang selama ini jamak diaplikasikan sebagai sarana proteksi nilai atau safe haven atas guncangan inflasi cenderung bakal berkurang daya pikatnya di kala tensi suku bunga meninggi.

Hal itu terjadi lantaran komoditas logam kuning ini pada dasarnya tidak menyajikan instrumen imbal hasil ataupun bunga tetap kepada para pemiliknya.

Ditinjau dari aspek geopolitik, pemerintahan AS meluncurkan pelonggaran sanksi terhadap negara Iran selama kurun waktu 60 hari terhitung semenjak Senin.

Langkah pelonggaran tersebut menyusul bergulirnya sesi pembicaraan tahap awal dalam koridor traktat perdamaian yang tengah dirancang oleh kedua belah pihak.

Kendati demikian, situasi ketegangan di wilayah Lebanon diinfokan masih terus berjalan.

Pada kesempatan sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance melontarkan pernyataan bahwa proses diskusi bersama para petinggi Iran di Swiss telah membuahkan fondasi yang positif menuju tercapainya kesepakatan damai yang bersifat final.

Selaras dengan mulai mendinginnya tensi perselisihan, intensitas pergerakan armada kapal tanker yang membelah Selat Hormuz yang sempat mengalami hambatan kini perlahan mulai merangkak naik kembali.

Dinamika positif tersebut pada gilirannya ikut menekan nilai minyak mentah jenis Brent hingga terkoreksi melampaui 1 persen pada sesi niaga Selasa, sehingga turut andil dalam menenangkan kepanikan inflasi di skala global.

Para pelaku industri kini tengah menantikan publikasi data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada minggu ini yang merupakan parameter inflasi utama acuan The Fed.

Rilisan data ekonomi tersebut nantinya bakal bertindak selaku kompas penunjuk krusial bagi arah kebijakan suku bunga pada periode selanjutnya.

Adapun komoditas logam berharga lainnya dipastikan ikut terseret ke zona merah.

Untuk instrumen perak spot tercatat melorot sebesar 4,9 persen menuju angka 61,98 dollar AS per ons.

Sementara untuk komoditas platinum melemah sebanyak 1,2 persen menuju posisi 1.657,92 dollar AS per ons.

Terakhir, untuk komoditas palladium ikut merosot sedalam 2,6 persen menjadi senilai 1.232,28 dollar AS per ons.

Terkini