Puluhan Ribu Warga Lebanon Selatan Mulai Kembali ke Rumah

Jumat, 19 Juni 2026 | 09:09:26 WIB
Warga mulai kembali ke wilayah selatan Lebanon meski kerusakan akibat serangan Israel masih terlihat di sejumlah kawasan (FOTO: NET)

ISTANBUL - PBB mengabarkan bahwa sekitar 50.000 penduduk telah pulang ke kediaman mereka di wilayah Lebanon selatan, walaupun ada lebih dari 100.000 warga yang tetap tinggal di fasilitas pengungsian bersama di sejumlah daerah.

Stephane Dujarric selaku Juru Bicara PBB mengungkapkan pada Kamis (18/6) bahwa mengacu pada data Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), ada hampir 50.000 individu yang saat ini sudah kembali ke tempat tinggal mereka di Provinsi Nabatieh serta Lebanon Selatan.

"Namun, lebih dari 106.000 orang masih berada di lokasi-lokasi penampungan kolektif di seluruh negeri, sementara banyak lainnya mencari perlindungan di tempat lain," kata Dujarric kepada wartawan.

Dia memaparkan bahwa sejumlah lembaga mitra kemanusiaan mengingatkan terkait situasi keamanan yang belum menentu, kehancuran yang masif, serta minimnya akses ke fasilitas dasar yang masih jadi kendala utama bagi banyak penduduk untuk pulang.

Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) mengidentifikasi adanya 143 pergerakan proyektil pada hari Kamis, di mana 19 di antaranya berasal dari pihak militer Israel dan sisanya dilepaskan oleh kelompok Hizbullah, jelas Dujarric.

Pada hari sebelumnya, pihak UNIFIL mendeteksi sebanyak 364 pergerakan proyektil, dengan rincian 330 berasal dari militer Israel dan 34 lainnya dari Hizbullah.

UNIFIL pun mengabarkan terjadinya 38 pelanggaran batas udara Lebanon pada Rabu, walau tidak ditemukan adanya pelanggaran pada Kamis di wilayah kerja pasukan perdamaian tersebut.

Berdasarkan penjelasan Dujarric, para personel penjaga perdamaian masih terus memantau adanya pergerakan darat yang masif oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di seluruh area kerja misi mereka.

Dia juga menyebutkan peristiwa pada Rabu saat rombongan UNIFIL diadang oleh dua unit tank milik Israel di sebelah utara Kota Tyre.

"Selama insiden tersebut, salah satu tank mengarahkan senjatanya ke kendaraan UNIFIL," katanya.

Dujarric mengimbuhkan bahwa tentara Israel memberikan tanda agar rombongan berhenti, yang membuat tim patroli terpaksa menghentikan laju dan memutar arah sebelum akhirnya diperbolehkan lewat jalur lain.

"Kami kembali menegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian UNIFIL harus memiliki kebebasan bergerak tanpa hambatan di seluruh wilayah operasinya saat menjalankan tugas atas mandat Dewan Keamanan PBB," ujarnya.

Informasi ini dikeluarkan setelah pihak Amerika Serikat serta Iran menyepakati secara elektronik "Memorandum Saling Pengertian Islamabad" yang menyudahi aktivitas militer di seluruh lini pertempuran akibat perang Israel dan Amerika Serikat melawan Iran sejak 28 Februari, termasuk yang terjadi di Lebanon.

Terkini