Aturan Baru FFI 2026: Tahapan Penjurian Dipangkas Jadi 3 Tahap

Jumat, 19 Juni 2026 | 09:09:17 WIB
Konferensi Pers Peluncuran FFI 2026 (FOTO: NET)

JAKARTA - Ketua Penjurian Festival Film Indonesia (FFI) 2026 Budi Irawanto menyatakan adanya pembaruan regulasi pada sistem penilaian kategori film cerita panjang yang berkaca dari evaluasi tahun lalu.

"Yang pertama adalah bahwa ketentuan film yang boleh atau bisa mendapat adalah film yang diproduksi oleh perorangan atau badan hukum Indonesia lainnya," kata Budi dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.

Adapun kerja sama produksi bersama pihak luar negeri tetap diizinkan dengan syarat mayoritas pekerja kreatif dalam karya tersebut merupakan warga negara Indonesia.

Selanjutnya mengenai pergantian nama suatu kategori menjadi Pencipta Lagu Tema Asli Terbaik demi menghargai para musisi yang ikut berkontribusi memajukan industri sinema tanah air.

Di samping itu, karya yang diajukan wajib sudah dirilis dan dinikmati publik lewat layar lebar atau medium digital resmi lainnya pada periode 1 September 2025 sampai 31 Agustus 2026 atau berkisar setahun.

Bukan cuma itu, jika pada gelaran terdahulu ada empat fase penilaian, maka pada edisi kali ini panitia menyederhanakannya menjadi tiga fase saja yaitu kurasi awal, fase nominasi, serta fase penetapan pemenang.

Proses penilaian ini diharap dapat menyaring jawara yang berkualitas, berbobot, serta menyajikan pencapaian teknis, artistik, dan tematik terbaik dalam kancah sinema Indonesia.

Modifikasi lainnya yang juga diterapkan ialah untuk kelompok film noncerita panjang, di mana dokumenter pendek kini dipatok memiliki batas durasi paling sedikit 10 menit, berbeda dengan FFI 2025 yang minimal 15 menit.

"Ini tujuannya adalah agar memberi kesempatan yang luas bagi para dokumentaris pemula berpartisipasi di FFI sehingga ikut mendorong perubahan film dokumenter di Indonesia," katanya.

Budi mengimbuhkan bahwa nilai utama dari proses penjurian FFI bakal tetap menjaga perpaduan antara penilaian kuantitatif serta kualitatif, dengan memandang film sebagai komoditas industri yang populer sekaligus karya kultural bernilai tinggi.

Terkini