Lonjakan Harga Energi Picu Inflasi Tinggi di Eropa pada 2026

Senin, 25 Mei 2026 | 14:52:16 WIB
Ilustrasi World Bank (FOTO: NET)

JAKARTA - Harga minyak serta gas di kawasan Eropa diprediksikan akan terus membubung tinggi hingga akhir tahun 2027.

Situasi tersebut pun akan memicu lonjakan harga pada berbagai jenis barang lainnya.

Mahalnya harga energi yang berlangsung dalam jangka panjang ini akan menstimulasi lonjakan laju inflasi pada tahun 2026.

Valdis Dombrovskis selaku Komisaris Ekonomi Uni Eropa menyampaikan bahwa kenaikan harga energi yang mendorong inflasi ini diperkirakan menyentuh level 3,1% pada tahun 2026 dan menjadi 2,4% pada tahun 2027.

Angka tersebut melonjak jauh lebih tinggi bila disandingkan dengan prediksi sebelumnya untuk tahun ini yang berada pada level 1,9%.

“Kami memperkirakan inflasi energi ini akan secara bertahap akan merembet ke berbagai sektor ekonomi,” ujar Dombrovskis, setelah pertemuan para menteri keuangan dari 21 negara anggota zona euro yang membentuk Eurogroup, demikian mengutip laman AP, Senin, (25/5/2026).

Christine Lagarde yang memegang jabatan sebagai Presiden Bank Sentral Eropa mengutarakan bahwa walaupun ketegangan di Timur Tengah dapat diatasi saat ini, dampak yang tertunda akan tetap membuat harga barang-barang melesat tinggi.

“And kemungkinan besar tingkat harga akan lebih tinggi pada akhir krisis ini, ketika kami melihat akhir dari krisis ini,” kata Lagarde.

Dia menegaskan bahwa pihak Bank Sentral Eropa akan mengupayakan segala kebijakan yang dibutuhkan demi menjaga stabilitas harga pada level 2% dengan memantau dampak lanjutan dari guncangan ekonomi awal akibat lonjakan harga energi.

Dia juga menyoroti jumlah cadangan minyak yang disimpan oleh Uni Eropa untuk mengantisipasi lonjakan permintaan yang berpotensi terjadi.

Kyriakos Pierrakakis selaku Presiden Eurogroup menyampaikan bahwa bagi Uni Eropa, selesainya krisis ini bermakna kembalinya kebebasan bernavigasi tanpa biaya apa pun melewati Selat Hormuz, jalur yang dilewati oleh sekitar seperlima komoditas minyak dan gas global.

Pierrakakis juga memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi di kawasan zona euro akan menyentuh 0,9% pada tahun ini dan bergerak ke level 1,2% pada tahun 2027, di mana angka ini lebih rendah dari prediksi sebelumnya namun dipastikan masih jauh dari ancaman resesi.

Meski kenaikan proyeksi inflasi memicu spekulasi bahwa Bank Sentral Eropa akan menaikkan suku bunga acuan guna meredam inflasi, Lagarde belum memberikan sinyal pasti terkait langkah yang akan diambil oleh bank tersebut.

“Kami akan terus mengikuti pendekatan yang bergantung pada data dan dari pertemuan ke pertemuan untuk menentukan sikap kebijakan moneter yang paling tepat guna mencapai target jangka menengah 2% kami,” kata Lagarde.

Sebelumnya, nilai jual minyak dunia merosot hingga lebih dari 4% pada hari Minggu, 24 Mei 2026 waktu setempat.

Penurunan harga minyak ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal bahwa proses dialog dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz tengah menunjukkan perkembangan positif, walaupun dia menekankan pihak Amerika Serikat tidak akan terburu-buru dalam menyepakati perjanjian.

Berdasarkan laporan dari Yahoo Finance, Senin, (25/5/2026), nilai minyak mentah West Texas Intermediate untuk kontrak berjangka anjlok mendekati 5% ke level USD 91,65 per barel pada pukul 19.13 waktu ET.

Sementara itu, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak berjangka juga merosot sekitar 5% menjadi USD 98,30 per barel.

“Negosiasi berjalan dengan tertib dan konstruktif, dan saya telah memberi tahu perwakilan saya untuk tidak terburu-buru mencapai kesepakatan karena waktu masih berpihak kepada kita,” kata Trump pada Minggu dalam sebuah unggahan di media sosial.

Sang Presiden menyampaikan pada hari Sabtu bahwa kesepakatan bersama Iran terkait pembukaan jalur Hormuz, di samping persoalan lainnya, secara umum telah dinegosiasikan dan akan segera dipublikasikan dalam waktu dekat.

Trump sebelumnya sempat memberi tanda bahwa ketegangan dengan pihak Iran sudah berada di fase penyelesaian, namun kondisi di lapangan justru memanas kembali dan membuat harga minyak kembali melambung.

Nilai minyak mentah Amerika Serikat terpangkas lebih dari 8% pada pekan lalu dan jenis Brent ikut jatuh melampaui 5%, setelah Trump mengumumkan pembatalan serangan udara yang sedianya segera diluncurkan ke Iran guna memberikan kelonggaran waktu bagi proses negosiasi.

Harga minyak sendiri sempat melonjak hingga di atas 30% semenjak Amerika Serikat beserta Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu.

Pihak Iran telah menerapkan pemblokiran secara de facto terhadap seluruh lalu lintas pengiriman komoditas lewat jalur Hormuz semenjak awal Maret, sehingga setiap kapal diwajibkan mengantongi izin dari mereka jika tidak ingin menghadapi risiko serangan.

Pemblokiran tersebut diterapkan sebagai imbas dari serangan udara pihak Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei selaku kepala negara Republik Islam beserta jajaran pemimpin tertinggi lainnya.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur paling krusial bagi pasar minyak global, di mana sekitar 20% dari total pasokan dunia melintasi rute laut tersebut sebelum konflik pecah.

Aksi pemblokiran oleh Iran pada akhirnya memangkas volume ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah secara drastis, sehingga memicu problem hambatan pasokan paling masif dalam sejarah.

Pihak Amerika Serikat pun melancarkan aksi balasan berupa embargo terhadap pelabuhan serta kapal-kapal milik Iran.

Trump menegaskan pada hari Minggu bahwa embargo dari Amerika Serikat akan tetap berjalan sepenuhnya sampai sebuah kesepakatan berhasil dicapai, disetujui, serta ditandatangani bersama.

Terkini